Wednesday, February 20, 2013

Landasan Pengembangan Kurikulum


oleh :  Anis Ro’iyatunisa 1103104

Landasan pengembangan kurikulum memiliki peranan yang sangat penting. Apabila kurikulum diibaratkan sebagai sebuah bangunan, jika landasan atau fundasi bangunan tidak kuat maka bangunan tersebut akan mudah roboh apabila  diterpa badai atau guncangan. Namun sebaliknya, jika fundasi bangunan tersebut itu kuat maka bangunan tersebut akan tahan terhadap terpaan angin maupun guncangan.
Menurut Hornby, landasan adalah suatu gagasan atau kepercayaan yang menjadi sandaran, suatu prinsip yang mendasari, dasar atau titik tolak.
Kurikulum sebagai suatu sistem terdiri dari 4 komponen, yaitu :
1.    Komponen tujuan (aims, goals, objectives)
2.    Isi atau materi (contens)
3.    Proses pembelajaran (learning activities)
4.    Komponen evaluasi (evaluations)
Setiap komponen bisa menjalankan fungsinya dengan tepat dan bersinergi, jika ditopang oleh sejumlah landasan yang kuat.
Robert S. Zais (1976) mengemukakan empat landasan pengembangan kurikulum, yaitu : Philosophy and the Nature of Knowledge, society and culture, the individual, dan learning theory. Tyler (1988) juga mengemukakan beberapa aspek yang melandasi kurikulum (school purposes), yaitu : use of philosophy, studies of learners, suggestion from subject specialist, studies of contemporary life, dan use of psychology of learning.
Dari perbandingan kedua pendapat diatas, secara umum dapat disimpulkan bahwa landasan pokok dalam pengembangan kurikulum adalah landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosiologis, serta landasan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).
1.    Landasan Filosofis Pengembangan Kurikulum
a.    Pengertian Filsafat
Istilah filsafat merupakan terjemahan dari bahasa inggris “phylosophy” yang berasal dari perpaduan dua kata Yunani “philien” yang berarti cinta (love) dan “sophia” (wisdom) yang berarti kebijsanaan. Jadi secara etimologis filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau  love of wisdom (Redja Mudyahardjo, 2001:83). Secara operasional filsafat mengandung dua pengertian, yakni sebagai proses (berfilsafat) dan sebagai hasil berfilsafat (sistem teori atau pemikiran).
Dalam kaitannnya dengan definisi filsafat sebagai proses, Socrates mengemukakan bahwa filsafat adalah cara berfikir secara radikal, menyeluruh, dan mendalam atau cara berfikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya.
Berdasarkan luas lingkup yang menjadi kajiannya, filsafat dibagi menjadi dua cabang besar, yaitu: filsafat umum atau murni, dan filsafat khusus atau terapan.
Bagan 1 pembagian filsafat berdasarkan kajian atau ruang lingkup
b.    Manfaat Filsafat Pendidikan
Nasution (1982) mengidentifikasi beberapa manfa’at filsafat pendidikan, yaitu:
·      Filsafat pendidikan dapat menentukan arah akan dibawa ke mana anak-anak melalui pendidikan di sekolah.
·      Dengan adanya tujuan pendidikan yang diwarnai oleh filsafat yang dianut.
·      Filsafat dan tujuan pendidikan memberikan kesatuan yang bulat kepada segala usaha pendidikan.
·      Tujuan pendidikan memungkinkan si pendidik menilai usahanya, sehingga tujuannya tercapai.
·      Tujuan pendidikan memberikan motivasi atau dorongan bagi kegiatan-kegiatan pendidikan.

c.    Filsafat dan Tujuan Pendidikan
Filsafat pendidikan akan menentukan arah kemana peserta didik akan dibawa. Untuk itu harus ada kejelasan tentang pandangan tentang pandangan hidup manusia atau tentang hidup dan eksistensinya.
Filsafat atau pandangan hidup akan mempengaruhi tujuan pendidikan nasional yang ingin dicapai. Tujuan pendidikan memuat pernyataan-pernyataan mengenai mengenai berbagai kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh peserta didik selaras dengan sistem nilai dan falsafah yang dianutnya.
Herbert Spencer (Nasution, 1982) mengungkapkan lima kajian sebagai sumber dalam merumuskan tujuan pendidikan, yaitu :
1)        Self – Preservation
2)        Securing the necessities of life
3)        Rearing of family
4)        Maintaining proper social and political relationships
5)        Enjoying leisure time

d.   Filsafat dan Tujuan Pendidikan
Kurikulum pada hakikatnya adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Karena tujuan pendidikan sangat mempengaruhi filsafat atau pandangan hidup suatu bangsa, maka kurikulum yang dikembangkan harus juga mencerminkan falsafah atau pandangan hidup yang dianut bangsa tersebut.

e.    Aliran-aliran Filsafat Pendidikan
Menurut Redja Mudyahardjo (1989) terdapat tiga sistem pemikiran filsafat yang sangat besar pengaruhnya dalam pemikiran pendidikan pada umumnya, yaitu : idealisme, realisme, dan pragmatisme.
Konsep-konsep filsafat
Idealisme
Realisme
Pragmatisme
Metafisika
·     Realitas yang bersifat spiritual atau rohaniah
·    Realitas yang bersifat fisik atau materi
·      Kenyataan tidak mungkin dan tidak perlu
Humanologi           (hakikat manusia)
·     Kemampuan berfikir menyebabkan adanya kemampuan memilih
·     Hakikat manusia terletak pada apa yang dapat dikerjakannya
·     Manusia adalah hasil evolusi biologis, psikologis dan sosial
Epistemologi   (hakikat pengetahuan)
·     Pengetahuan diperoleh melalui intuisi dan pengingatan kembali melalui berfikir
·     Pengetahuan diperoleh melalui pengindraan dengan menggunakan pikiran
·      Pengetahuan bersifat relatif dan terus berkembang
Aksiologi                 (hakikat nilai)
·     Kehidupan diatur oleh kewajiban moral
·     Tingkah laku manusia diatur oleh hukum alam yang diperoleh melalui ilmu atau adat istiadat
·     Tingkah laku ditentukan secara eksperimental dalam pengalaman- pengalaman hidup

Konsep – konsep pendidikan
Idealisme
Realisme
Pragmatisme
Tujuan Pendidikan
·     Pembentukan karakter, pengembangan bakat dan kebajikan sosial
·     Dapat menyesuaikan diri secara tepat dalam hidup dan dapat melaksanakan tanggung jawab sosial
·     Memperoleh pengalaman yang berguna untuk memecahkan masalah baru dalam kehidupan
Isi Pendidikan
·     Pengembangan kemampuan berfikir melalui pendidikan liberal atau pendidikan  umum
·     Kurikulum komprehensif yang berisi semua pengetahuan yang berguna bagi penyusunan diri dalam hidup dan tanggungjawab sosial
·     Kurikulum berisi pengalaman – pengalaman  yang telah teruji secara minat dan kebutuhan anak
Metoda Pendidikan
·  Metode dialetik atau dialogik
·     Pengalaman langsung atau tidak langsung, metode hendaknya bersifat logis dan berurutan
·     Berfikir reflektif atau pemecahan masalah
Peranan peserta didik dan pendidik
·   Peserta didik bebas mengembangkan bakat dan kepribadiannya
·   Pendidik menciptakan lingkungan yang memungkinkan peserta didik dapat belajar secara efektif dan efisien
·     Peserta didik menguasai pengetahuan yang dapat berubah-ubah
·     Pendidik menguasai pengetahuan, terampil dan teknik mendidik dan memilih kewenangan untuk mencapai hasil pendidikan yang dibebankan kepadanya
·     Peserta didik adalah organisme yang rumit yang mampu tumbuh
·     Pendidik mengawasi dan membimbing pengalaman belajar tanpa terlampau banyak mencampuri urusan minat dan kebutuhan peserta didik

2.    Landasan Psikologis Pengembangan Kurikulum
Melalui pendidikan diharapkan adanya perubahan perilaku peserta didik menuju kedewasaan, baik dewasa dari segi fisik, mental, emosional, moral, intelektual, maupun sosial. Perubahan perilaku peserta didik dipengaruhi oleh faktor kematangan dan faktor dari luar program pendidikan atau lingkungan.
Pengembangan kurikulum harus dilandasi oleh asumsi-asumsi yang berasal dari psikologi yang meliputi kajian tentang apa dan bagaimana perkembangan peserta didik, serta bagaimana peserta didik belajar.
a.    Perkembangan Peserta Didik dan Kurikulum
Syamsu Yusuf (2005:23-27) menguraikan karakteristik tahap-tahap perkembangan individu yang digambarkan sebagai berikut :
1)   Masa usia pra sekolah 0-6 tahun
·      Masa vital, individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk merespon berbagai hal yang terdapat di lingkungannya.
·      Masa estetik adalah masa berkembangnya rasa keindahan dan masa peka bagi anak untuk memperoleh rangsangan (stimulasi) melalui seluruh indranya.
2)   Masa usia sekolah dasar 6-12 tahun
Fasa ini disebut periode intelektual, pada masa ini anak-anak lebih mudah diarahkan diberi tugas yang harus diselesaikan dan berbagai kebiasaan.
3)   Masa usia sekolah menengah 12-18 tahun
Masa usia menengah bertepatan dengan masa remaja. Masa remaja merupakan masa yang banyak menarik perhatian karena sifat-sifat khasnya dan peranannya yang menentukan dalam kehidupan individu dalam masyarakat orang dewasa.

b.    Psikologi Belajar dan Pengembangan Kurikulum
Pendekatan terhadap belajar berdasarkan suatu teori tertentu merupakan asumsi yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaannya berkaitan dengan aspek-aspek dan akibat yang mungkin ditimbulkannya. Ada tiga teori belajar yang memiliki pengaruh terhadap pengembangan kurikulum di indonesia, antara lain :
1)   Teori psikologi kognitif (kognitivisme)
2)   Teori psikologi humanistik
3)   Teori psikologi behavioristik

3.    Landasan Sosiologis dalam Pengembangan Kurikulum
Untuk menjadikan peserta didik agar menjadi warga masyarakat yang diharapkan maka pendidikan memiliki peranan penting, karena itu kurikulum harus mampu memfasilitasi peserta didik agar mereka mampu bekerja sama, berinteraksi, menyesuaikan diri dengan kehidupan di masyarakat dan mampu meningkatkan harkat dan martabat sebagai mahluk yang berbudaya.
Pendidikan adalah proses sosialisasi melalui interaksi insani menuju manusia yang berbudaya. Dalam konteks inilah anak didik dihadapkan dengan budaya manusia, dibina dan dikembangkan sesuai dengan nilai budayanya, serta dipupuk kemampuan dirinya menjadi manusia.
Calhoun, Light dan Keller (1997) memaparkan tujuh fungsi sosialisasi pendidikan, yaitu :
1)        Mengajar keterampilan
2)        Mentransmisikan kebudayaan
3)        Mendorong adaptasi lingkungan
4)        Membentuk kedisiplinan
5)        Mendorong bekerja berkelompok
6)        Meningkatkan perilaku etik, dan
7)        Memilih bakat dan memberi penghargaan prestasi

4.    Landasan Teknologis dalam Pengembangan Kurikulum
Pendidikan merupakan upaya menyiapkan siswa menghadapi masa depan dan perubahan masyarakat yang semakin pesat termasuk didalamnya perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka pengembangan kurikulum haruslah berlandaskan pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung berimplikasi terhadap pengembangan kurikulum yang didalamnya mencakup pengembangan isi/materi pendidikan. Dengan perkembangan zaman yang semakin pesat, pendidikan harus dapat membekali peserta didik agar memiliki kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi sebagai pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Referensi :
Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. (2009). Kurikulum & Pembelajaran. Bandung: Jurusan Kurtekpen UPI.

No comments:

Post a Comment

CARA HIDUNG MERESPON BAU

Manusia memiliki lima indera yang memiliki fungsi berbeda-beda. Salah satu dari lima indera tersebut adalah hidung yang berperan sebagai a...